Viral Menembus 1.900 Kilometer: Demi Silaturahmi, Praktisi JRA dari Kalimantan Timur dan Tengah Hadiri Silatnas VI di Wonosobo

Praktisi Berau Kaltim

Pengurus Pusat Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (PP JRA) – Jarak ribuan kilometer tak menyurutkan langkah para praktisi Jam’iyyah Ruqyah Aswaja (JRA) untuk menghadiri Silaturahmi Nasional (Silatnas) ke-VI dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-III pada Sabtu-Ahad (29-30/8/2026) di Pondok Pesantren Al-Mubaarok, Manggisan, Wonosobo, Jawa Tengah.

Salah satu kisah perjalanan datang dari para praktisi JRA asal Berau, Kalimantan Timur. Mereka menempuh perjalanan darat sekitar 1.900 kilometer selama enam hari dengan sepeda motor, melewati jalur lintas provinsi hingga menyeberangi selat untuk tiba di Wonosobo.

Perjalanan panjang tersebut dilakukan semata-mata untuk memenuhi satu tujuan, yakni bersilaturahmi dan mengikuti agenda nasional JRA bersama para praktisi dari berbagai daerah di Indonesia.

Kisah serupa datang dari rombongan praktisi JRA asal Lamandau, Kalimantan Tengah. Mereka juga memilih menempuh perjalanan panjang melintasi Pulau Kalimantan dan Jawa demi hadir secara langsung dalam forum silaturahmi nasional tersebut.

Kehadiran para praktisi dari daerah yang relatif jauh itu mendapat perhatian dari ribuan peserta Silatnas VI yang berkumpul di Auditorium Pondok Pesantren Al-Mubaarok Manggisan.

Suasana haru semakin terasa ketika Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina JRA, Gus Allama Allauddin Siddiqi, memanggil delegasi dari Berau dan Lamandau untuk naik ke atas panggung.

Sekretaris Jendral Pengurus Pusat JRA Gus Akhlis Munazilin,ST., MT kemudian memberikan piagam penghargaan kehormatan sebagai bentuk apresiasi atas keteguhan dan perjuangan mereka dalam menghadiri kegiatan nasional organisasi.

Bagi para praktisi tersebut, perjalanan panjang bukan sekadar persoalan jarak. Ada semangat silaturahmi, khidmah, dan kecintaan terhadap dakwah Al-Qur’an yang menjadi alasan mereka bertahan hingga sampai di Wonosobo.

Ujian Ketahanan dan Pemurnian Niat

Dalam kesempatan tersebut, Gus Allama Alauddin Siddiqi juga menyampaikan orasi reflektif bertema “Kebangkitan Praktisi JRA” di hadapan ribuan peserta.

Ia mengajak seluruh kader dan praktisi JRA untuk tidak mudah berkecil hati menghadapi dinamika perjalanan organisasi, termasuk adanya pasang surut dalam keanggotaan.

Menurutnya, perkembangan sebuah organisasi tidak selalu berjalan dalam garis lurus. Ada masa pertumbuhan, konsolidasi, hingga fase ketika para kader diuji keteguhan dan kesetiaannya terhadap perjuangan.

Gus Amak menekankan bahwa keberhasilan dakwah tidak semata-mata diukur dari banyaknya jumlah anggota. Lebih dari itu, keteguhan prinsip, keikhlasan, serta kesediaan untuk terus berkhidmah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan dakwah.

“Masa itu silih berganti. Ada masa ekspansi, ada masa konsolidasi, dan ada masa di mana Allah menguji daya tahan kita semua. Yang bertahan hari ini bukan sekadar sisa-sisa masa lalu, melainkan lentera yang siap menyalakan dakwah Al-Qur’an hingga pelosok kebun sawit dan pedalaman Nusantara,” tutur Gus Allama yang disambut gemuruh takbir peserta.

Cuplikan layar 2026 09 01 Cuplikan layar 2026 09 01

Persaudaraan Menjadi Kekuatan Organisasi

Selain berbicara mengenai ketahanan kader praktisi JRA, Gus Amak juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan persaudaraan di internal Jam’iyyah Ruqyah Aswaja.

Menurutnya, tantangan terbesar sebuah organisasi tidak selalu datang dari keterbatasan sumber daya maupun jumlah anggota. Justru, renggangnya hubungan antar praktisi, pengurus dan hilangnya rasa saling mencintai dapat menjadi persoalan yang lebih serius.

Karena itu, para praktisi JRA didorong untuk menjadikan organisasi sebagai ruang memperkuat ukhuwah dan menyatukan berbagai potensi kebaikan.

Perbedaan latar belakang, suku, budaya maupun karakter personal, kata dia, hendaknya tidak menjadi alasan untuk memecah persaudaraan.

“JRA harus menjadi wadah islah dan ruang menyatukan kebaikan, bukan arena perdebatan. Selama Al-Qur’an tetap kita baca, sanad keilmuan terjaga, dan persaudaraan dirawat dengan sabar, perjuangan ini tidak akan pernah selesai,” tegasnya.

Semangat tersebut tampak dalam suasana Silatnas VI JRA. Para praktisi dari berbagai daerah saling berjabat tangan dan berpelukan, meleburkan perbedaan setelah menempuh perjalanan dari berbagai penjuru Nusantara.

Kisah perjalanan para praktisi dari Berau dan Lamandau menjadi gambaran bahwa jarak ribuan kilometer bukanlah penghalang bagi mereka yang memiliki tekad untuk bersilaturahmi dan berkhidmah.

Dari pedalaman Kalimantan hingga lereng Wonosobo, langkah mereka bertemu dalam satu semangat: merawat persaudaraan, memperkuat konsolidasi, dan melanjutkan dakwah Al-Qur’an bersama JRA.

Penulis: Khayaturrohman

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *